Sedikit Cerita: 8 Pelajaran Yang Aku Pelajari dari Solo Backpacking

Sedikit Cerita: 8 Pelajaran Yang Aku Pelajari dari Solo Backpacking

Blog pertama di tahun ini, wii selamat tahun baru 2019. Tahun baru waktunya untuk membuat resolusi baru, termasuk aku yang ingin lebih banyak menulis. Hehe mohon dimaklumi jika gaya tulisannya agak rancu dan awul-awulan. Masih pemula dan lagi belajar menulis yang tidak awkward (toh ini bukan academic paper. Lol, can you tell that I am writing this blog during my final paper submission week duh). Anyway, moving away from my rambling prologue.

Mungkin backpacking solo atau sendirian terdengar capek, ruwet, dan seram apalagi untuk perempuan (rule #1: safety is numero uno). Aku dulu juga berpikir begitu, terlalu banyak yang dipikirkan, apalagi kalau backpacking dengan budget yang terbatas. Semua memang ada ups dan downs dan tema rambling story ini ingin memberikan perspektif jika ada yang ingin pergi backpacking sendiri, tetapi masih ragu, semoga pengalaman amaturku ini dapat membantu 🙂

Backpacking, How it started?

Awal mula aku suka backpacking itu waktu diakhir masa-masa kuliah di ugm, baru 3 tahun lalu di tahun 2016, tepatnya hari-hari sebelum pendadaran/sidang skripsi. Sebelumnya aku cuman anak kandang yang terobsesi dengan berkuda (equestrian), jadi tempat yang sering di datengin ya cuman kampus dan kandang kalau ngga ya di rumah hehe.

Waktu itu kepala memang lagi penat dan stress menunggu hari-H untuk sidang skripsi, karena dua dosen penguji skripsi waktu itu, yang satu dosennya “killer dan strict” dan yang satu lagi dosen “perfectionist” (masih ingat waktu liat daftar dosen penguji, langsung lemes haha). H-3 sidang, ada teman tante dari jakarta yang datang dan diajak tante untuk nemenin meraka jalan-jalan di jogja. Biasanya aku akan cari alasan untuk tidak ikut, karena biasanya cuman jalan-jalan ke ikon jogja, seperi alun-alun atau Malioboro. Tapi gara-gara pusing and stress mau sidang, menenangkan otak dan jalan keluar seemed like a good idea, walaupun waktu itu tidak tau mau diajak pergi kemana.  

Long story short, hari itu jadi pertama kalinya aku cliff jumping dan lompat 8 meter ke sungai (walaupun harus menunggu 20 menit untuk mengumpulkan keberanian dan leap of faith di tepi tebing haha). Mungkin terdengar agak clichè, tetapi gara-gara cliff jumping, that feeling you know, aku jadi suka ngalam/back into nature seperti judul game terfavorit Harvest Moon. Dan waktu itu juga jadi dekat dengan Ndaru yang nemenin backpackingku pertama kali (bro, inget ngga sih mulai dari pas ini kita tiap weekend main terus haha) And thanks to stress dan pusing sidang, aku jadi berani lompat hehe. Hari berikutnya, H-2 sidang, aku malah ketagihan dan nemenin teman-teman tante untuk pergi ke gunung merapi.

Hari sidang, seperti perkiraan, pertanyaanya dari dosen tercinta bikin pusing kepala, tapi alhamdulillah dilulusin. Dikasih waktu revisi 2 minggu, but me being me, aku keidean dan randomly ngajak Ndaru (Hi bruh:)) dan Dea (Hi Dee:)) yang padahal waktu itu masih di Bogor dan baru balik ke jogja dua hari lagi (yap, dia sampai jogja langsung packing lagi buat ke lombok padahal dia lagi nyusun skripsi). Anyway, at this point, aku baru aja tau tentang konsep backpacking (aku dulu mikirnya jalan-jalan ngirit, bahkan aku tidak tau apa itu hostel?! That’s how dumb I was), tapi kita tetep gas jalan, yang lain dipikir nanti (during this trip, kita spontaneously nyewa tenda di lombok dan akhirnya camping di Pulau Gili Trawangan. Itu juga pertama kalinya aku ngerasain actual camping!)

Backpacking sendiri pertama kalinya?

Fast forward setelah lulus, aku intern/magang di Global Peace Foundation (GPF) di Jakarta. Waktu magang ada acara International Peace Conference di Filipina dan managernya memberi saran aku untuk ikut dan akhirnya aku dapat sponsorship yang membiayai tiket pp dan akomodasi 4 hari selama peace conference di Filipina. As usual, a random idea just popped out out, “hmm kenapa aku ngga sekalian pergi backpacking?”. At this point, aku sudah tidak kepikiran lagi tentang backpacking sendiri atau gimana, karena setelah lulus kuliah, aku jarang pergi keluar (maklum karena orang tua, terutama ibu, ingin anaknya perempuannya di rumah). The timing just clicked. I need this. 

Akhirnya aku pergi untuk acara konferensi di Filipina. Aku pamit ke orang tua hanya untuk ikut konferensi tanpa mention tentang backpacking sama sekali. Aku bilang konferensinya 9 hari, yang padahal cuman 4 hari, jadi backpackingnya 5 hari. (ps, I’d love to tell them about it, tapi kalau pamit, ohh they wouldn’t have let me go, apalagi kalau tau aku pergi backpacking sendiri.)

How was the experience?

Pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan hehe. Walaupun agak nekat, tetapi kadang “the first step out of the door, is all that we need”. Pasti ada enak and tidak enaknya ketika kita keluar dari comfort zone. Apalagi backpackingnya waktu magang which means bekerja tanpa digaji (nyesek). Selama backpacking aku cuman pakai cash seadanya tanpa Credit Card (this was a mistake, going abroad without back up cash, can relate but not recommended). Sebelum pergi, aku ambil semua uang tabungan di atm (to put it into perspective, kalo aku sekarang disuruh kaya gitu lagi, I’ll think twice atau mengurangi hari untuk compromise budget, basically I was broke lol). Dihari terakhir yang di dompet tinggal 500 peso atau sekitar 150 ribu rupiah dan ngga makan pagi dan malam karena takut uangnya tidak cukup untuk bayar taksi ke bandara. But, afraid as heck, it was all worth it I would say. 

Dan semester break 2018 kemarin, aku dapat kesempatan untuk pergi backpacking sendiri lagi. Kali ini ke Thailand dan waktunya juga lebih lama, yaitu 15 hari. Ada banyak pelejaran selama backpacking solo, setiap orang mempunyai kesan tersediri dan berbeda (subyektif), jadi ini lebih ke personal learning dan personal opini tentang pelajaran yang dapatkan dari pengalaman backpacking solo.

Aku berusaha untuk kalimat yang tidak alay (tapi mau gimana lagi, it’s true), so here we go:

1. Sendirian bukan berarti kesepian

“Apa enaknya pergi dan backpacking sendiri kalau bisa sama temen?” Bukannya aku tidak suka backpacking dengan teman. Tentu saja “bareng-bareng” itu seru, backpacking pertamaku juga dengan teman. It was a blast. Aku dulu juga berpikir begitu, kalau pergi backpacking sendirian itu keliatannya sedih, tidak seru, rempong, tidak bisa share-cost, dll. In the contrary, waktu aku pergi backpacking sendiri, aku malah merasa bebas. Aku pergi sendiri, aku mengatur sendiri with own time and pace. 

Waktu itu aku bertemu dengan banyak backpacker yang pergi sendiri. Kebanyakan dari mereka memang ingin menghabiskan waktu sendiri. Keluar dari retunitas yang selalu berada di keramaian setiap harinya, seperti waktu bekerja/hidup di kota yang hectic .

Aku dulu awalnya juga aneh tidak ada teman untuk bicara, tapi lama-lama juga biasa. Mungkin untuk sebagian orang, memang perlu belajar, seperti aku yang kadang sering merasa tidak nyaman berpergian sendiri, walaupun hanya pergi makan (does it make sense? probably not haha).

2. Take a step aside and be friend about yourself

Berpergian sendiri berarti sering menghabiskan waktu sendiri. Jujur, awalnya memang agak aneh untuk menghabiskan waktu dengan diri sendiri, “enjoying our own company” dan yang paling penting “be friendly with your own thoughts”. 

Absorb all the knowledge. Trust your gut. Be responsible of yourself. You as a human being. Kepikiran waktu itu tentang apa itu me time. Menurutku me time itu penting sebagai individual, karena kita melakukan sesuatu yang berbeda dari orang lain, apa yang kita sukai. What make me happy instead of what other people think. Apalagi waktu backpacking kita tidak kenal orang dan orang lain tidak kenal kita, jadi bisa belajar dan membedakan, what I like and what I should do? (Although this one still difficult to answer myself haha).

3. The unexpected things will be the highlight

Seperti berpergian biasa, hal yang tidak terduga mungkin akan menjadi yang paling teringat. Berpergian sendiri juga, hanya mungkin berbeda jika kita sendiri. Walaupun merasa sedikit aneh menertawakan diri sendiri untuk pertama kalinya. Tapi ada hal lain berbeda, karena untuk backpacking yang kedua kalinya ke Thailand, aku memilih untuk pergi sendiri, bukan karena kondisi seperti ketika backpacking pertama kali ke Filipina. 

Hal-hal kecil akan membuatku senang, every little thing, yang mungkin terdengar biasa di kehidupan sehari-hari. Hal-hal kecil seperti, berhasil tidak nyasar ke suatu tempat, tidak tertinggal kereta, berhasil menawar harga tuk-tuk, ataupun anak kecil yang menyapa “hallo”. Semua hal kecil itu bisa membuat kita senang. Hmm mungkin karena kita selalu sendiri, jadi setiap sesuatu yang kita lakukan atau dapatkan akan lebih terkesan berbeda, little bit of extra happiness, why not?

4. Simple itu menyenangkan

Backpacking taught me to pack the essential, the core stuffs for days. Especially when you backpack under budget. That cheap plane ticket without baggage, the street food or all of the stuffs I want to buy but wouldn’t fit into my backpack. The idea of being simple is so fun to explore. Memang tidak mudah (trust me I agree ahaha), tapi menurutku gratitude/bersyukur itu adalah sesuatu yang harus dipelajari. 

Siapa yang tidak suka dengan uang? Tiket pesawat?Hostel? Uang sudah pasti sangat penting untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mungkin orang yang mengatakan uang itu tidaklah penting adalah orang yang punya uang banyak atau orang kaya. Bukankah itu terdengar seperti a hypocrite? (Aku sendiri bukan dari keluarga kaya raya, tapi Alhamdulillah berkecukupan, well that’s beside the point). Tapi… bagaimana kalau melihatnya dari perspektif yang lain. Mungkin mereka yang memang mempunyai uang, memang menyadari kalau memiliki uang banyak, belum tentu merasa senang.

5. Learn to cope with situation

Temanku tau kalau aku adalah orang yang suka panikan. Jadi ini sedikit sulit untukku personally. Jadi kalau ada fellow teman yang suka panik, you are not alone haha. Walaupun aku masih panikan (merubah perilaku itu memang susah), tapi aku belajar dari untuk handle things calmly waktu backpacking sendiri, karena panik dalam segala situasi artinya memberi kesempatan kepada orang lain untuk mengambil kesempatan dari kita. Contohnya ketika nyasar di jalan. Walaupun bingung dan takut, keep it in your mind to be cautious, tapi jangan sampai keliatan sama tukang taksi ataupun preman dijalan. Act like you know it, even though you don’t.

Think of back up plan strategy, how to get things done by yourself. Understanding your capability because sometimes or most of the time you need to rely on yourself. Sidenote: one bad thing does not mean it’s a bad day/trip. 

6. Be more social, but don’t take everything personal

Bertemu dengan orang-orang baru setiap hari. Tempat baru, orang baru. Bertoleransi itu adalah human essential sebagai mahluk sosial. Tapi kadang the don’t take everything personal itu memang susah tapi dimanapun kapanpun this will come in handy and safe you from annoying rant.

Tetapi jangan lupa juga, kita akan bertemu dengan banyak orang baik dijalan yang membantu seperti waktu aku ingin membeli kaca mata snorkling, eh tiba-tiba ada yang memberi kaca mata snorkling randomly waktu naik kapal ferry. Trust the unexpected ahaha). Kita akan merasa senang ketika dibantu tapi jangan sampai take it for granted too. Kalau nyasar, tanya orang. Kalau semisal ada orang lain nyasar, ya kita juga bantu.

7. Semakin banyak traveling, semakin aku suka dengan Indonesia.

Mungkin ada yang setuju, mungkin ada yang tidak, tapi itu yang ada dikepalaku, bangga dengan suku, budaya, keindahan dan keunikan Indonesia. Kebanyakan backpacker yang aku temui punya pengalaman menyenangkan di Indonesia. Awalnya aku berpikir, “Ah mungkin mereka hanya tau Bali”. I was wrong. Mereka travelnya beda-beda, ada yang ke Pontianak untuk berada di garis katulistiwa, ke Sumatra untuk ke Padang atau ke Danau Toba, ke Jawa untuk liat blue fire di kawah ijen atau ke Jogja melihat Prambanan dan Borobudur, atau ke Sumba, Sulawesi ataupun Ambon. 

Bahkan waktu aku belajar diving di Koh Tao, Thailand, instrukturnya juga menanyakan kenapa tidak belajar di Indonesia saja karena laut Indonesia itu menurutnya adalah salah satu yang paling bagus di dunia. (Agree, but do you know that Koh Tao adalah tempatnya untuk belajar diving termurah ke-2 di dunia? dan aku sudah dapat pesan dari ayah, kalau ingin belajar diving jangan di Indonesia, karena ibu akan memulai ceramah panjang ahaha).

8. And the last but not least, we plan things but let the journey filling the rest.

Aku lupa kapan aku dapet kata-kata “we plan things, but let the journey filling the rest”. Tetapi kalimat itu yang stuck di kepala waktu backpacking pertama kali ke Filipina dan sampai sekarang (hence itu jadi motto dari travel blog ini). Waktu itu ke Filipina sudah direncanakan mau kemana saja, budgetnya gimana, tetapi tetap saja hal-hal yang berubah waktu perjalanannya (Seperti poin ke-3, the good unexpected things selalu menyenangkan haha). Did I plan to go camping in Philippines? No. Did I meet new friend there and then go camping at an isolated location which can only be reached by small boat with no phone signal at all? Happy to say yes I did 🙂

That’s all for this blogpost. if you still reading down until this point, well, I want to say thank you and hug you. Terima kasih! Have something in mind or a question? let me know via the comment box below, will happily answer!

Leave a Reply

Close Menu