Menjelajah Bangkok: Ibu Kota Metropolitan Thailand

Menjelajah Bangkok: Ibu Kota Metropolitan Thailand

Akhirnya aku kembali melanjutkan untuk menulis blogpost yang sudah lama over due ini. Walaupun sudah menjadi draft bertahun-tahun (hehe 🙈). Masih inget banget perjalananku ke Bangkok ini, itu karena ini pertama kalinya aku sebagai orang yang berkulit coklat terkena sunburnt ketika jalan-jalan menyusuri kuil-kuil disana haha 😂

Bangkok adalah destinasi pertamaku ketika solo backpacking kecil-kecil ke Thailand selama dua minggu di awal tahun 2018 lalu. Perjalananku ke sana sebenarnya dalam rangka pulang ke Indonesia sewaktu liburan semesteran kuliah di Taiwan. Dari pada pulang dengan direct flight, akan lebih seru kalau mampir dulu ke Thailand pikirku. Diawali dengan modal nekat dan uang tabungan pas-pasan aku pergi kesana sendiri, karena waktu itu tidak ada yang mau diajak pergi bareng. Awalnya agak takut tapi karena sudah pengen banget, jadi mikirnya “Bodo amatlah yang penting berangkat saja dulu”.

Sampai nekatnya waktu itu, di hari penerbangan untuk berangkat ke Bangkok, aku belum selesai dengan tugas akhir mengumpulkan Final Essay salah satu mata kuliah haha. Alhasil aku membawa tugas kuliahku ke Bangkok.

Perjalanan ke Bangkok dari Taipei menempuh waktu kurang lebih 4 jam perjalanan menggunakan maskapai Tiger Air. Setelah sampai, aku langsung menuju ke hostel yang sudah aku pesan sebelumnya, Khaosan Immjai. Karena aku hanya sendiri dan dalam budget, jadi aku pilih hostel dengan kasur bunkbed tanpa sarapan, jadi biasanya aku makan pad-tai untuk sarapan, makan siang dan malam (selain murah, aku adalah “noodlehead” jadi bahagia bisa makan mie setiap hari).

Sesampainya di hostel, aku check-in, cari makan malam, beli sabun sampo dan kemudian melanjutkan mengerjakan final essay yang belum aku selesaikan di hostel (Alhamdulillah, di hostelnya ada komputer yang gratis untuk dipakai. Kalau backpacker yang lainnya pakai untuk mencari informasi tentang destinasi di Bangkok, tapi aku memakainya untuk mengerjakan essay #theperkofbeingadeadliner. Serius jangan dicoba ya, aku tidak rekomen karena otak jadi konslet tidak bisa berfikir karena sudah mode liburan).

The Grand Palace

Setelah semalaman begadang drama mengerjakan dan mengirim deadline essay, Keesokan paginya aku pergi mengunjungi The Grand Palace. Karena semangatnya aku tidak mempedulikan seberapa lama untuk berjalan ke kuil dari hostel, karena dilihat di Google Map sepertinya dekat haha (ternyata lumayan sekitar 35 menit panas-panasan).

Untuk masuk ke Grand Palace kita harus berpakaian sopan dan membayar sekitar 500 Baht atau berkisar sekitar Rp. 240.000 (Dengan kurs dibulan September 2020, 1 Baht= Rp.478). Walaupun sedikit mahal, aku jamin worth it! Dan sudah jauh-jauh masa tidak masuk ke Grand Palace haha. (Oiya, ternyata kalau orang Thailand gratis untuk masuk, temenku dari Thailand bilang seharusnya aku tidak usah membayar dan berpura-pura saja menuju ke kuil untuk beribadah 😂 Duh, mendingan bayar deh dari pada kena karma haha).

Grand Palace sendiri merupakan perkomplekan dari kediaman keluarga Raja Thailand hingga tahun 1925 saja. Sekarang lebih menjadi destinasi turis dan kuil. (Jangan kaget kalau di pinggir jalan kamu akan melihat banyak sekali gambar-gambar dari Raja Thailand). Aku sempet kepikiran kalau Grand Palace itu kaya Keraton Kasunanan di Jogja, tapi Grand Palace lebih besar dan menjadi simbol negara Thailand.  Karena menjadi simbol, siapapun yang ke Bangkok, pasti akan datang ke sana jadi komplek ini bakalan selalu penuh dengan turis. Kapanpun dan hari apapun kamu mau kesana, mau pagi ataupun sore, tetep rame banget dan panas (btw, jadi jangan lupa bawa sunblock atau nanti kena sunburnt kaya aku sampai ganti kulit haha).

Relik-relik dan Patung Garuda pada kuil-kuil

Di dalam komplek, kita bisa melihat keunikan bangunan yang sudah ada sekitar tahun 1800-an. Warna dari komplek ini dominasi oleh kebudayaan Agama Budha dan ke-khasan dari warna emasnya yang iconik. Semua ukiran dan lukisan yang ada di dalam komplek ini adalah hasil tangan/handmade. Waktu itu aku juga berkesempatan melihat renovasi salah satu bangunan komplek, dan mereka memanat dan mengecat dinding-dinding komplek dengan tangan dan peralatan sederhana (membuatku semakin kagum).

Patung penjaga yang memakai pakaian tradisional
Warna emas adalah warna dominan di Grand Palace

Disalah satu bagian di Grand Palace ada juga lukisan-lukisan yang menceritakan sejarah-sejarah Thailand, termasuk cerita Ramayana. Nah bingung kan kenapa di kuil Buddha terdapat cerita Ramayana yang kental dengan agama Hindu? Ini karena dulu sejarahnya Bangkok merupakan wilayah dari kerajaan-kerajaan Khemer yang mempunyai ajaran Hindu. Jadi walaupun masyarakat Thailand beragama Buddha, mereka mengasimilasi ajaran hindu sebagai salah satu dari budaya mereka juga. Sehingga banyak nama-nama kuil yang mempunyai arti dalam ajaran Hindu.

Kisah ramayana dalam lukisan di dinding Grand Palace
Detail ukiran dan hiasan candi

Mengunjungi Wat Pho “The Temple of Reclining Budha”

Tidak jauh dari Grand Palace, ada kuil yang menarik juga guys, namanya Wat Pho yang terkenal dengan patung Budha Raksasa yang sedang tidur miring santai-santai. Saking besarnya patung ini, kita jadi tidak bisa lihat patungnya secara keseluruhan karena pilar-pilar kuilnya yang besar juga (Jadi seperti harus harus peek-a-boo sama patungnya ini haha). Untuk melihat seberapa besar patung Buddha ini, aku harus ke bagian kaki Buddha dan melihatnya patungnya secara menyeluruh dari sana.

Kuil Pho terlihat dari pintu gerbang
Warna dari kuil-kuil berbeda satu dengan yang lain
Patung-patung Budha yang berderet mengelilingi kuil

Sejarahnya, kuil ini di bangun kembali oleh Raja Rama I, raja yang menetapkan bahwa Bangkok adalah ibu kota dari Thailand dan juga pencetus pembuatan Grand Palace. Untuk Reclining Budhanya baru di bangun oleh Raja Rama III. Sedikit cerita tentang Reclining Budha, patung ini merupakan patung Budha terbesar di Thailand, dengan panjang 46 m dan tinggi 15 m. Posisi dari Reclining Budha sendiri mencerminkan Buddha menuju gerbang Nirvana. 

Sebagai salah satu kuil utama di Thailand, Wat Pho juga merupakan pusat pendidikan dan pusat belajar obat-obatan tradisional di masanya. Nah, Thai Massage yang terkenal itu ternyata asalnya dari sini juga (Jadi jangan lupa buat pijat-pijat ya kalau mampir Bangkok, serius enak banget, apalagi habis jalan-jalan seharian).

Destinasi Berikutnya: Wat Arun “The Temple of Dawn”

Setelah puas menikmati Wat Pho, aku memutuskan untuk menyebrangi sungai menggunakan kapal untuk menuju Wat Arun/ “The Temple of Dawn” yang artinya adalah Kuil Matahari Terbenam. Ya sesuai dengan namanya, kuil ini terlihat indah sekali ketika menjelang matahari terbenam, terlebih lagi letaknya yang dekat dengan sungai. Kuil Wat Arun didominasi oleh warna putih jadi ketika senja, warnanya akan berupah menjadi warna sinar matahari terbenam, dan pada malam harinya, warna putihnya akan terlihat megah.

Wat Arun dilihat dari seberang sungai

Tempat utama dari Wat Arun adalah tower putih yang berada di tengah tengah komplek candi. Tower ini memiliki 70 m dan dihiasi dengan porselin-porselin warna hijau, biru, dan kuning.

Kalau kamu ingin mengunjungi kuil yang sedikit lebih tenang dan tidak banyak turis, nah ini tempatnya. Dengan membayar 50 Baht atau Rp. 24.000 kamu bisa memasuki kuil ini. Ini kuil yang aku bisa lebih enjoy, karena tidak se-ramai kuil-kuil yang lainnya. Terlebih lagi, karena aku traveling sendiri, disini akhirnya aku bisa dengan leluasa untuk mengambil gambar dengan self-timer tanpa diburu-buru orang ataupun kekhawatiran kalau kameraku tidak sengaja ditendang turis-turis haha.

Menikmati Street Food di Kao Shan Road

Setelah puas dengan mengunjungi Grand Palace dan kuil-kuil disekitarnya, akhirnya waktunya untuk hunting street food di Khao San Road, yang terkenal dengan night marketnya. Disini banyak sekali lapak-lapak yang menjual jajanan pasar dan yang pasti Pad-Thai!! Aku nyobain Pad-Thai mulai dari yang dijalan-jalan sampai yang masuk restoran, duh enak semua, parah sihh apalagi pakai bubuk cabe dan seafood yumm.. 

 

Banyak toko-toko souvenir disekitar kuil-kuil.
Salah satu warung Kari ikan yang aku kunjungi
Khanom Buang/Crispy Pancake
Suasana lapel-lapak street food di Kao Shan Road

Selain Pad-Tai, aku juga cobain street food lainnya seperti Fish curry dan Khanom Buang (Crispy Pancake). Hati-hati untuk makanan pedas di Thailand. Kalau mereka bilang pedas, artinya pedas sekali ya. Sewaktu aku makan Rice Noodle with Fish Curry atau Bihun dengan saus kari ikan, biueeh mana maktu itu belum beli air minum. Tapi serius, kalau para travelers atau backpackers yang doyan makanan pedas, harus mencoba makanan pedas ala Thailand.

Suasana Kao Shan Road sebelum night market dibuka

Bangkok memang ibu kota metropolitan yang menunggu untuk dijelajah. Budaya yang unik dan kuil-kuil yang identik dengan warna keemasannya merupakan ciri-ciri khas kota metropolitan ini. Jadi jangan lupa mampir ke Bangkok ketika mengunjungi Thailand!

Terima kasih sudah membaca blogpost menjelajah Bangkok ini sampai selesai. Semoga jika ada yang ingin backpacking ke Bangkok, blog ini dapat membantu! Kalau ada pertanyaan seputar backpacking ke Bangkok ataupun pengalamanmu menjelajah Bangkok, boleh tulis di kolom komentar, I’ll gladly answer and update the blog. Cheers! 🙂

This Post Has 6 Comments

  1. Haihaaaiii, Halooo, Aqma! Aku mampir ke blog kamu nih, dan WOWWW! Kece khanmaeeenn, udah ku-klik tombol FOLLOW BLOG. Udah ketemu 😀 Ku pingin dapat notif tiap ada postingan baruuuu.

    Btw, aku ke Bangkok tiga tahun silam, dan jadi pengin halan2 lagiii setelah baca postingan ini
    Semoga corona cepet hengkang yaaa

    1. Aww.. terima kasih banyaaak Mbak Nurul yang sudah comment, like, dan follow.. ah you made my day today <3!! Btw, Mbak Adalah blogger pertama yang follow aku :') Aku juga ngga sabar baca blogpost terbaru Mbak Nurul, inovatif dan menginspirasi bangetlah emang bukanbocahbiasa 😍

      Bangkok memang seru untuk di explore ya mbak, mirip-mirip tapi beda sama Jakarta haha. Betul banget, semoga corona cepet bubar ya, biar bisa keluyuran lagi ya hehe~

  2. Aku pernah ke Grand Palace juga, bahkan beberapa foto kita ngambilnya sama haha. Suka deh dengan tone foto-fotonya.

    1. Terima kasih 🤗💕
      Oiya?! Bisa samaan yak haha…emang disana banyak spot yang photogenic ya

  3. Bangkok itu kota fav ku bangetttt utk Asia tenggara :). Udahlah murah2, makanan enaaaak , transportasi juga udh bagus. Makanya aku paling seneng kalo ngabisin weekend kesana .

    Tp kalo kota2 di Thailand, fav ku nomor 1 ttp Chiang Rai, Krn sejuk :). Dan LBH murah lg hahahaha.

    Pad Thai memang enaaaak bgt ya mba. Akupun ga pernah bosen makan pad Thai. Trkahir ke Bangkok Ama temen2 nov 2019. Duuuh lgs puaaaas kulineran dan trutama pad Thai lah yg paling srg aku makan 😀

    Grand palace waktu itu aku ga mau masuk, cm liat dr luar. Jujur aja wat bukan objek wisata fav ku sih. Aku LBH seneng jelajah kuliner ato shopping kalo di Thailand.

    1. Bangkok emang ngangenin ya :’) aku juga pengen balik ke sana lagi… ah aku belum sempet ke Chiang Mai… belum kesampaian padahal pengen, cuman waktunya ngga sampe, soalnya aku explore ke Ayuttaya liat candi-candi (aku penggemar arsitektur candi hehe)

      Pad Thai is God sent haha, mau di pakein pakai apa aja parah enak semua 😋

      Terima kasih mbak Fanny sudah mau mampir dan membaca ☺️

Leave a Reply

Close Menu