Pendakian Gunung Prau: Keseruan Mendaki and Menikmati Sunrise Tak Terlupakan

Pendakian Gunung Prau: Keseruan Mendaki and Menikmati Sunrise Tak Terlupakan

Sudah hampir setahun aku ingin mengunjungi Gunung Prau di Wonosobo tapi tidak pernah kesampaian, tapi akhirnya di tahun 2019 lalu aku dan teman-teman mendaki gunung yang mempunyai ketinggian 2565 Mdpl tanpa wacana. Aku berangkat dari Jogja menuju Prau bersama Ndaru, Gombloh, Doni, dan Raafi (Hello guise!) 

Persiapan yang kami lakukan sangatlah terbatas dikarenakan ini perjalanan tanpa wacana, alias dadakan hehe. Baca juga artikel: “Mendaki Gunung Untuk Pemula: Tips Sebelum Melakukan Pendakian” 🙂

Perjalanan: Memulai Mendaki Hingga Sampai Puncak

Kami memilih untuk mengambil perjalanan dan pendakian pada malam hari karena Gombloh sudah tahu jalan dan tidak ada terik sinar matahari, jadi pendakian akan lebih menghemat tenaga. Untung saja Gombloh sudah pernah mendaki Gunung Prau, sehingga rasa khawatir untuk pendakian malam tidak terlalu dipikirkan. 

Perjalanan kami mulai melalui Basecamp Patak Banteng, walaupun kami sempat kesulitan untuk menemukan basecamp tersebut. Dari Jogja kita berangkat sekitar pukul 6 sore dan sampai ke daerah Wonosobo sekitar pukul 10.30 malam. Kami juga tidak lupa untuk mampir ke pasar untuk membeli logistik masak kami. Tetapi kami tidak memikirkan kalau pasar tidak buka 24 jam, ya kami sampai ke pasar sekitar pukul 10 malam dan semua lapak tutup. Tapi beruntungnya kita ketika kami sampai di dekat basecamp pendakian, ada warung kopi yang dan toko kecil milik warga sekitar. Kami bertanya apakah menjual sayur-sayuran, kemudian tanpa pikir panjang, bapak penjual toko tersebut berkata, “Sebentar ya, saya carikan dulu”. Ternyata bapak tersebut pergi untuk mengambil beberapa sayur-sayuran dari kebunnya, alhasil sayuran yang kita bawa untuk dimasak di puncak adalah sayuran organik yang masih fresh baru dipetik. 

Setelah drama ke pasar yang tutup dan akhirnya menemukan logistik, kita berangkat menuju puncak sekitar jam 11.30 malam. Waktu yang kami estimasi adalah sekitar 4-5 jam perjalanan tergantung berapa lama dan seringnya kami untuk istirahat (kami dalam konteks ini adalah aku hehe). 

 

Masih bisa senyum sebelum mendaki 🙂
Rute Pendakian Gunung Prau via Patak Banteng

Pada awal trek pendakian, kita melewati rumah penduduk sekitar, dan seperti trek gunung lainnya, akan selalu diawali dengan banyak tangga. Itulah yang aku ingat waktu pendakian hingga sampai pada base camp ke 2. Tidak banyak yang bisa kita lihat selama pendakian, hanya anak tangga dan terangnya bulan purnama yang menemani pendakian. 

“Kenapa mendakinya kitap malam ya Mbloh?” tanyaku gamblang ke Gombloh karena aku memang tidak tau kenapa mendakinya malam hari. “Biar ngga kepanasan”. Iya, jadi ternyata kita mendakinya malam hari soalnya biar ngga kepanasan dibandingkan dengan hiking di siang hari dan sampai puncak bisa langsung lihat sunrise.

Menurutku pendakian malam itu seru, yang penting jangan mikirin hal-hal yang aneh-aneh (contohnya: memikirkan tentang hantu :’)) yang penting kita sudah berdoa dan yang pasti diantara tim pendakian kita harus ada yang tahu jalan dan sebelumnya pernah mendaki gunung tersebut, jadi biar tidak kesasar sewaktu mendakinya. Soalnya, jujur, waktu mendaki aku sama sekali tidak tahu kondisi medannya seperti apa, jadi konsentrasi banget waktu mendaki. 

Untungnya Gunung Prau adalah gunung yang first-timers friendly (Ini adalah gunung ke-2 ku, jadi masih belajar untuk mendaki juga) jadi untuk para pendaki pemula, Gunung Prau adalah gunung yang cocok untuk didaki. Disepanjang trek pendakian banyak tempat istirahat/ spot landai untuk menarik napas dan minum.

Pemandangan desa sekitar dari pendakian pos 1

Personally, pada pendakian Gunung Prau, pos pendakian 2 adalah trail favoritku. Di trail ini, treknya masih natural dan tidak ada tangga, melainkan akar-akar pohon besar. Dan trail pos pendakian ke 3 menuju puncak adalah yang paling melelahkan. Trek ini lebih menanjak, dan karena sudah loyo dan tidak sabar ingin sampai puncak, jadi lebih terasa lama perjalanan pada pos ke 3. (Untuk gambar perjalanan dan trail ada di  bawah ya :)).

Suasana di Puncak Gunung Prau

Setelah perdakian kuran lebih 4 jam, pukul 3 pagi kita sampai di puncak. Gombloh, Ndaru, Doni, dan Rafi memulai untuk mendirikan tenda, dan aku, karena perempuan sendiri, bertugas untuk memasak Indomie. Setelah menyantap indomie plus telur, kita semua istirahat sambari menunggu sunrise yang sudah dinantikan. 

Sekitar pukul 5.15 pagi Gombloh membangunkan kita-kita yang masih teler. Suasana masih gelap gulita dan super dingin, aku yakin pada saat itu dibawah 10 derajat celcius. (Dinginee poll!!)

Setelah keluar dari tenda dan melihat ke arah Gunung Sumbing dan Sindoro, “Wow!”. Salah satu pemandangan sunrise terbagus yang pernah aku lihat. Beruntung saat itu sama sekali tidak ada kabut dan awan mendung, jadi semua pemandangan tampak jelas. 

Pemandangan Sunrise di Gunung Prau
Foto keluarga 5cm lol
Pemandangan Gunung-gunung di Sekitar Gunung Prau

Masak-Masak di Gunung Prau

“Pasukan Berani Mati Tapi Takut Lapar” guyonan receh selama perjalanan pendakian. Gombloh dan Doni yang paling semangat untuk memasak di Gunung Prau. Segala jenis bambu, telur dan sampai beras pun kita bawa untuk dimasak.

Setelah kita semua puas menikmati pemandangan sunrise, kita semua mulai lapar, dan akhirnya mode masak-masak pun diaktifkan. Perbekalan pun mulai dikeluarkan dan dimasak. 

Menunya sangat simpel tapi, namanya di Gunung, apa aja yang anget itu pasti enak (Tapi seriusan yang kita masak emang enak). Sayur sop, mie goreng, telur goreng, dan kopi panas yumm. 

Perjalanan Turun Gunung Prau

Sekitar pukul 3 sore, kita bergegas untuk turun karena harus menempuh perjalanan ke Jogja. Untuk perjalanan turun, kita hanya memerlukan waktu 2,5 jam untuk sampai di basecamp. 

Berbeda dengan perjalanan menuju puncak, yang kita lakukan pada malam hari, untuk perjalanan pulang kita bisa melihat pemandangan dan trail perjalanan.

Jepretan terakhir sebelum kita memulai untuk trek turun gunung

Overall Thoughts

Gunung Prau adalah gunung yang cocok untuk para pendaki pemula. Trek yang tidak terlalu menanjak dan juga basecamp yang memadai. Ada beberapa tips yang aku dapatkan dari pendakian ke Gunung Prau, antara lain:

  • Ketika mendaki pada musim dingin/hujan, kita dapat membawa baju hangat/kaus kaki cadangan.
  • Bawa kaus tangan dan beanie hehe thank me later! (Terutama yang ngga kuat dingin)
  • Ketika mendaki, jangan terlalu banyak minum air, karena bisa buat perut kembung dan masuk angin.
  • Ketika berkunjung ke Prau, diusahakan untuk mencari hari yang bagus dan tidak mendung, karena trek akan penuh dengan tanah becek, apalagi pada pos 2 dan 3.
  • Jangan membawa tissu basah, karena dapat merusak ekosistem gunung jika dibuang sembarangan. (Di basecamp Patek Banteng juga ada larangan membawa tissue basah).
  • Enjoy the trail, it’ll be worth it on the top!! 
Kalau kalian ingin menjadikan Gunung Prau sebagai gunung perdana, just do it guys!! Selamat Mendaki! 🙂

Terima kasih sudah membaca blogpost ini sampai selesai. Semoga jika ada yang ingin mendaki Gunung Prau, blog ini dapat membantu! Kalau ada pertanyaan tentang pendakian ini ataupun ada saran yang kelewat, boleh tulis di kolom komen, I’ll gladly answer and update the blog. Cheers! 🙂

This Post Has 2 Comments

  1. cakep banget blog nya kak,, pake elementor kah ini kak?

    btw aku org jateng malah belum pernah ke prauu kak hahahah pgn bgttttt liat sunrise disana wehh

    1. Ahh mba Rini mampir… senangnya 😍 Iya mba aku pakai elementor. Aku yang kagum malah sama blog coletehdinihari.com, kontennya sama designnya suupeeer keren dan menarik. Aku masih newbie di blogging, jadi waktu kmrn baca blog mba Rini makin nambah ilmu untuk blogging 💕

      Gunung Prau recommended banget, bagus viewnya waktu sunrise. Ngga terlupakan pokoknya apalagi kalau kita orang jateng haha harus itu 🙈

      Terima kasih mba Rini sudah mampir 🤗

Leave a Reply

Close Menu