A Letter From My Younger Self

A Letter From My Younger Self

Ah susah memang untuk memulai untuk membuka diri. Memulai percakapan dengan topik tetang rasa perasaan ataupun emosional kita, rasanya gimana gitu. Uneg-uneg yang kita rasakan susah untuk dikemukakan. Mungkin di dunia yang semakin kental dengan rasa individualisme, memulai sebuah percakapan pun aneh. Apalagi untuk bisa connect dengan orang lain itu rasanya memang susah-susah gampang.

“Let’s talk about how hard it is to understand your own self and how scary it is to feel like the world is falling on to your shoulder and you have no idea why!”

Jreng..jreeng..jreeng Life Crisis in our 20s Talk is officially started! (Ps. kalau kalian merasa cringe waktu mulai baca ini, mungkin di pause dulu, dan kembali lagi kalau life crisis game kalian sudah mulai ya haha.. or keep reading up to you 😂)

Sewaktu aku mikir-mikir tentang tema blog hari ini, aku jadi berasa de javu karena aku ingat pernah mengalami ini juga. Hmm.. mungkin kita mengalami krisis kehidupan yang berulang-ulang.. tapi hanya lupa bagaimana kita meng-handle-nya haha.

Dan yap, setelah aku buka beberapa catatan dari tahun 2017, ini dia beberapa hal yang pernah aku kumpulin waktu itu (which I indeed needed to remind myself in 2020).

You Are Here To Live Your Life, Not To Make Everyone Understand

Ah aku memang perlu (mungkin selalu.. hihi) untuk diingatkan tentang hal ini karena aku terkadang over-thinking apa yang akan dipikirkan oleh orang lain mengenai sikapku. 

Pemikiran-pemikiran seperti ini yang kadang membuatku ingin bersikap “normal”, mengikuti ekspektasi dari orang-orang lain kebanyakan. Apalagi kalau sudah di beri stereotype kalau perempuan itu harus begini-begitu…

Hmm.. Ada yang sering kerasa kaya gini juga tidak ya?

World’s Greatest Lie

Diambil dari buku terfavorit, The Alchemist oleh Paulo Cohelco…

“What is the world greatest lie?”

“It’s this: that at a certain point in our lives, we lose control of what’s happening to us, and our lives become controlled by fate. That’s the world’s greatest lie.”

Ini yang terkadang sering terjadi berulang-ulang dalam hidup, ketika kita sudah “acuh” terhadap diri kita sendiri dan berpikir kalau itu sudah takdir. Salah satu dari tanda kita terjebak dalam “World’s Greatest Lie” adalah kalau kita mulai menyalahkan segala sesuatu. Menyalahkan keadaan dan situasi kita, menyalahkan orang lain, ataupun menyalahkan masa lalu (haduh~). Point-nya disini memang kita harus berani bertindak agar tidak “auto-pilot” dalam menjali hidup.

All You Need is 20 seconds

“Sometimes all you need is 20 seconds of insane courage, just literally 20 seconds of embarrassing bravery, and something great will come of it.”🙈

Kita sering berpikir dan berkeinginan untuk melakukan sesuatu, tapi tidak tau kapan harus memulai. Nah ini ni yang sering banget terjadi sama kita-kita yang sudah mulai sibuk, dan akhirnya membuat kita lupa tentang sesuatu yang kita ingin lakukan.

“Take wrong turns. Talk to strangers. Open unmarked doors. And if you see a group of people in a field, go find out what they are doing. Do things without always knowing how they’ll turn out. You’re curios and smart and bored, and all you see is the choice between working hard and slacking off. There are so many adventures that you miss because you’re waiting to think of a plan. To find them, look for tiny interesting choices. And remember that you are always making up the future as you go.” – Rendall Munroe.

What is SCARIER than Change??

Jawaban dari pertanyaan diatas adalah “Allowing fear to stop you from Growing, Evolving, and Progressing.” Itulah yang lebih menakutkan…

Shit. This. Is. Deep. 

Keluar dari zona nyaman itu memang susah dan buat deg-degan apalagi dengan bertambahnya usia kita.

Jujur aku kadang-kadang juga masih takut untuk berubah, dan terus nanti akhirnya berasa overwhelm, dan akhirnya tidak jadi keluar dari zona nyaman haha. Nah, jadi untuk nge-trick supaya pikiran kita agar tidak over-whelm, sebaiknya kita lakukan perubahan step-by-step (hey, every step counts! ❤️).

“It Is Okay” Magic Spell

“It’s okay to be happy. It’s okay to be afraid. It’s okay feel sad. It’s okay to be wrong. It’s okay to get mad. It’s okay to feel overwhelmed”. And the list goes on… and it’s okay because we human with feelings.

Tapi disini “It’s okay” bukan menjadi the end result, tapi sebaliknya… Dengan memahami ini apa yang kita rasakan, akan menjadi langkah pertama kita untuk menyelesaikan apapun yang sedang kita pikirkan aka “It’s the time to move on with life and work on it.”

“Everything heals. Your body heals. Your heart heals. Your mind heals. Your happiness is going to come back. Bad times don’t last”.

Overall

Nah, itulah beberapa kutipan catatan yang pernah aku dapatkan sewaktu existential crisis di tahun 2017 :”) Mungkin ini hanya sebatas di permukaan saja, semua orang mempunyai permasalahan yang berbeda-beda. Semoga tulisan ini bisa membantu, we can get thru this <3

Apakah kalian juga pernah mengalami Life Crisis in your 20s? Tips apa yang kalian punya? (Silahkan tulis dikolom komentar ya… sharing is caring!) ☺️

Terima kasih semua yang sudah membaca blogpost kali ini. Semoga bisa memberikan ide-ide yang baru untuk memahami tentang Life Crisis in our 20s hahaKalau mungkin ada pertanyaan ataupun ingin comment bisa ditulis dikolom bawah. I appreciate all your thoughts and I’ll gladly answer. Cheers! 💕

This Post Has 16 Comments

  1. Mba Aqmaaaaa…. I love this post sooo much❤
    In life what I scared the most is take a step, takut untuk memulai, banyaaaak banget pikiran what if…what if…. berseliweran, kemudian underestimate myself, not feeling confident and many more. Mbaa this is so me. I used to blame the situation and people on my circle about what happened to me few years ago, till I realized that im not gonna growing up and got this personality, if I didn’t get through into that way. Semoga mba Aqma ngerti dengan inggrisku yang belepotan ini hahaha.

    Ngomongin quarter life crisis, aku lagi mengalaminya, apa yang aku lakukan untuk membuat diri aku jadi feeling better adalah nggak buka sosmed terlalu banyak dulu, karena berdasarkan pengalaman aku dengan melihat postingan teman yang (kelihatan) nya bahagia bisa memicu pemikiran-pemikiran yang membuat kita nggak menghargai usaha sendiri, Journaling….. dengan membuat jurnal bisa membuat energi positif keluaaar, hehehe, lastly, nonton dan baca tulisan kayak gini hahahhaa, karena dengan membaca dan mendengar cerita orang lain, it’s encourage me that im not alone and it’s normal to be afraid of something, berasa punya squad lah intinya hahaha.

    1. Memang mesti banyak belajar apalagi untuk cara berpikir tentang diri sendiri. Aaahh…Aku setuju banget sama tips-tips kamuuu, memang harus belajar untuk ngertiin diri sendiri, dan journaling memang membantu banget haha 😂

      hayuuuklah jadi squad ya saling membantu getting thru this life crisis <3
      Terima kasih ya sudah membaca

  2. Life Crisis in Our 20s,
    Being 20s tuh mungkin step paling bingungin kali ya, remaja bukan, mau dibilang dewasa juga enggan. Try and error, kemudian down ngelihat orang lain yang sepantaran keliatan jauh lebih baik. Kok bisa ya orang-orang pada happy happy aja padahal kita berasa jungkir balik banget.
    Yuk bisa yuk, kalo ada tujuan pasti ada satu pintu yang dibuka buat kita.

    1. Masa-masa existential crisis yang paling buat kita bertanya-tanya mau dimana arah hidup kita mau dibawa (uh cieilah sedaap 😂)
      Iya bener banget, aku juga percaya kalau hidup itu sudah ada yang mengatur, tinggal tergantung di diri kita sendiri <3 we can get thru this ☺️

  3. Umurku itu, kalau dibilang baru masuk 20s, nggak bisa. Kalau dibilang di ujung 20s juga ngga bisa. Dan aku bisa bilang aku sepertinya belum mengalami Quarter Life Crisis, namun mengarah kesana. Tapi aku takut itu terjadi disaat yang sangat tidak diinginkan nanti.

    Semangat ya mba, semua quotesnya keren dan “nyentil” aku banget. Sehat2 yaa😊

    1. Kadang life crisis itu tumpukan crisis-crisis kecil yang tertimbun haha 😂 Kalau lagi ngalamin emang agak serem, but we’ll get thru it somehow 💕

      Iya semangat buat kita semua ya. I’m happy that I can help hehe ☺️

  4. bener semua apa yang ditulis

    dulu pas gue ngobrol hal seperti ini bersama senior gue, enggak ada yang gue pahami dari ucapannya. karena seolah emang baru diajarkan teori-teorinya aja. belum ke prakteknya sih.

    sangat setuju dengan poin pertama, tapi mungkin kalo gue sendiri sih akan menambahkan, ‘Jangan terus-terusan liat orang lain’
    emang bagus, kalo misalnya hal tersebut membangkitkan rasa semangat. tapi yg biasanya terjadi, malah jadi overthinking dan malah enggak jalan di tempat. enggak ada yg salah dengan mikir jauh. tapi sekarang sih, gue nganggepnya, kalo diri gue terus-menerus mikir jauh, pun belum terjadi juga, gue jdi ga bisa menikmati kehidupan yang saat ini gue jalani.

    1. Iya aku setuju banget comparison itu kadang bisa jadi toxic kalau kita kelewatan atau memandangnya dari perspektif yang pas. Emang untuk menikmatin kehidupan yang sedang dijalanin itu susah-susah gampang ya hehe, harus sering instrospeksi kedalam diri kita sendiri. Semangat ya buat kita 😀

  5. Ini bisa ga sih dilike tp ga komen? Hahahha.
    Btw quarter life crisis happened to me even before i turn 25. Eh apa ntar pas 25 ada lagi? Duh please no.

    1. Nope mala… musti komen kalau di dunia perbloggingan haha

      Duh kamu 25 aja belum ada haha.. jangan sampe life crisis ya mal 💕 kamu bukan life crisis tapi galau akud kalii wkwk

  6. Aaaa kereen ini tulisannyaaa ngena banget! Makasih kak 🙂

    1. Terima kasih sudah mampir dan membaca 😊

  7. Menarik banget nih a letter to our younger self.
    Btw quarter life crisis udah lama banget kalau buat aku hehehe.
    Yang jelas itu masa masa banyak berpikir kritis, nggak sungkan mengemukakan pendapat, lagi belajar buat menurunkan ego, dan hobi menebar quotes di setiap e-mail yang aku kirim hehehe.
    Tapi ada quotes yang dipakai jadi motto sampai sekarang,
    everything happens for a reason.

    Enggak ada yang kebetulan terjadi di dunia ini, termasuk pertanyaan ketika mempertanyakan eksistensi kita di dunia.

    1. Setujuuu banget dengan Mbak Renov, everything happens for a reason <3
      Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari life crisis ya hehe
      Keluar dari zona nyaman itu memang awalnya serem gitu, walaupun udah sering berkali-kali haha

      Terima kasih mbak sudah mampir dan membaca <3

  8. (。・∀・)ノ゙嗨,馬莉娜!你好!

    First of all, tampilan blog kamu cakep banget! Langsung betah lihatnya hihi

    This post is so heartwarming. Aku mulai menulis “surat” untuk diri sendiri sejak ulang tahun ke 27, sebagai pengingat untuk hari-hari ke depan. Bagian keluar dari zona nyaman itu beneeeer banget! Rasanya diriku yang sekarang kepengen teriak pake toa ke diriku di awal 20an, “Woyyyy udah sih ngapain takut banget untuk coba hal baru!” 🤣 Awalnya nyesel kenapa nggak lebih berani, namun makin ke sini jadi pembelajaran aja, sih. Supaya nggak melulu stuck di zona nyaman dan berani untuk membuka diri mencoba hal-hal baru, sekecil apapun itu (:

    Cheers for our 20s yaa! 💕 *sok muda padahal udah di ambang kepala dua wkwkwk*

    1. Mbak Janeee ~~ 你好!😍

      Aww mbak terima kasih, your comment made my Friday even better 💖
      Iya aku setuju banget mbak, ngelihat diri sendiri di waktu muda (cielah berasa tua banget ya haha) itu gemes-gemes tapi juga seneng karena bisa reflect on our growth sebagai manusia. Sekarang aja juga terkadang masih suka deg-degan untuk keluar dari zona nyaman.. trus kepikiran hmm “what would my old self will scream pakai toa ke aku yang sekarang ini?” haha
      Terima kasih mbak sudah mampir dan membaca mbak Jane. Cheers to our life 🥂

Leave a Reply

Close Menu