Perubahan Persepsi Dalam Memaknai Arti “Persahabatan”

Halo semua.. apa kabar? Semoga semua sehat-sehat di masa pandemi ini ๐Ÿ™‚

Topik menarik yang ingin aku bahas kali ini datang disaat aku dan temanku (hi Nisa!) sedang dalam perjalanan untuk piknik mencari panas matahari diminggu lalu. Entah dari mana, kita mulai bercerita tentang arti pertemanan dan persahabatan.

Pembahasan yang menarik menurutku, karena disaat itulah aku baru sadar tentang perubahan persepsi yang aku punya, tentang arti kata “Persahabatan”.

Note: By no means I’m an expert on this issue haha, ini hanya observasi pribadiku ya *peace*

Arti dari "Persahabatan"

Ada banyak sekali arti dari persahabatan, mungkin setiap orang mempunyai subjektifitas yang berbeda-beda. Mulai dari “Sahabat bagaikan kepompong”, “Sahabat sejati, “Sahabat senasip”, dan masih banyak lagi tipe-tipe dari persahabatan.

Menurut teman-teman, apa yang paling berpengaruh terhadap hubungan persahabatan?

Beruntung sekali mereka yang tidak mengalami perubahan dalam arti persahabatan dari kecil hingga dewasa. Karena mereka sudah yakin dan nyaman akan definisi dan persahabatan yang mereka punyai selama ini.

ย 

Story time hehe..

Hmm.. bingung juga aku mau memulainya dari mana karena aku sudah mempunyai masalah dalam hal “Persahabatan” ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar aka SD. Let’s just say, aku bergaul dengan teman-teman yang salah, teman-teman yang aku kira adalah “sahabatku” justru membuatku merasa kecil.ย 

Bullying, itulah kata yang aku tahu.ย 

I’m not proud to be a bullying victim. Tetapi itu yang terjadi sewaktu aku kecil dulu. Sebenarnya aku tahu kalau aku adalah korban bullying, tetapi somehow, aku selalu kembali ke mereka. School felt like hell.ย Worst part, kedua orang tuaku tidak ada yang mengetahui tentang ini, karena aku tidak ingin mereka merasa cemas.ย 

Aku merasa takut jika tidak ada teman yang ingin berteman denganku. (Itu yang ada dikepalaku sewaktu itu)

Inilah isu dalam dunia bullying yang mungkin hanya bisa dipahami oleh mereka yang mengalaminya langsung. Getting out of the circle seems and feels hard. Ini dikarenakan para pembully got our emotions. (Mungkin terdengar berlebihan, tetapi itulah yang aku rasakan dulu).ย 

Rasanya aku bisa ngobrol panjang tentang bullying di blogpost tersendiri haha..ย 

So that’s the background of the story...

Bolehkan kita memilih teman dan sahabat?

Here is the tricky part… sering kan ada kata-kata “Janganlah kita memilih-milih teman”

Aku setuju banget dengan kata-kata tersebut karena kita tidak boleh membedakan-bedakan orang lain dari latar belakang yang berbeda-beda baik dari ras, kelas, agama, pendidikan, dll…

Tetapi, disisi lain aku juga takut kalau bullying yang pernah terjadi terulang kembali. Dari situlah aku selalu berhati-hati dalam memilih teman dan sahabat.ย 

Jadi apakah kita boleh untuk memilih teman dan sahabat?

Dari pelajaran yang aku ambil selama ini (haseeek haha ๐Ÿ˜‚), dalam bahasa indonesia kita terlalu meng-generalkan artian kata “pertemanan” jadinya semua orang yang kita kenal bisa kita panggil sebagai “teman”.

Mari kita pecahkan dulu dalam bentuk level-level dibawah ini:

Piramida pertemanan (Source: "Stages of Friendship" by J.Tucker from Vocal.Media)

Level 1: Intimate Friends atau yang biasa dibilang “Sahabat Sejati”.

Level 2: Close Friends atau “Teman Dekat”

Level 3: Casual Friends atau “Teman”

Level 4: Acquaintance atau “Kenalan”

Level 5: ย Strangers atau “Orang yang tidak dikenal”

Nah dari kelima level pertemanan diatas, kebanyakan dari kita melupakan level 4 “Acquintance” atau “Kenalan” dalam dunia pertemanan. Menurutku, level 4 inilah yang sebenarnya kita tidak boleh memilih-milih “kenalan”, bukan “teman”. Karena untukย menjadi teman, kita harus mempunya “common interest” atau kesukaan yang sama, misalnya hobi.

Oh I wish I knew the word “Acquaintance” when I was in elementary school lol..

The best kind of best friends

Mungkin akan terdengar clichรฉ, tetapi sahabat terbaik adalah bersahabat dengan diri kita sendiri.ย 

Pelajaran yang aku dapatkan ketika backpacking sendirian (just me, myself, and I ๐Ÿ˜‚) membuatku memahami arti dari being my own best friends. (Ps. bukan berarti aku mau single selamanya ya, that’s not the point here haha)

Ketika kita bisa menjadi sahabat untuk diri kita sendiri, bertemu sahabat yang lain akan lebih menyenangkan..

Alone doesn’t mean lonely, and vice versa ๐Ÿ˜‰ ๐Ÿ’•ย 

Kalau saja aku atau tentang self-value dan bagaimana cara bersahabat dengan diri sendiri kala itu, mungkin aku akan bisa keluar dari bullying circles dengan mudah.ย 

Tapi memang itulah proses yang sudah terjadi.

Took me a while haha…

Waktu dulu mikirnya kalau semakin banyak temennya itu semakin baik. Tetapi sekarang lebih memilih kualitas dari pada kuantitas. Disisi lain juga bisa merasa lebih senang dan fulfill karena dengan sahabat yang aku punya, aku mempunyai “shared values, ideas and depth”.

Yang paling penting adalah “Just Be You” / “Menjadi Diri Sendiri” karena pada akhirnya nanti teman dan sahabatlah yang akan datang.. (haseeek..)

Karena aku yakin setiap orang mempunyai vibrasi yang unik, yang mana akan attract orang yang bisa menjadi potential friends yang sama-sama mempunyai vibrasi yang senada.. bisa sibilang satu frekuensi-lah..

Apalagi kalau kita typical orang yang mixed introvert dan extrovert pasti pernah dibilang kalau kita ini pendiam (haha ๐Ÿ˜ฌ), padahal sebernarnya kita suka ngobrol (dan mungkin susah untuk berhenti haha), tetapi ย dengan teman yang satu frequensi. Yup, I’ve been there so many times.ย 

Nah, jadi lebih baik kalau kita fokus menjadi diri sendiri “being authenthic self” dari pada fokus mencari teman atau sahabat dengan menjadi seseorang yang bukan diri kita sendiri, for the sake of being liked ๐Ÿ™ˆ . Big no no… yang ada nanti malah kita makin banyak drama dan “fake friends”.ย 

Thank you, next!ย 

Itu dia topik blogpost minggu ini. Aku harap topik kali ini menarik untuk dibahas โ˜บ๏ธ

Jadi pengen tau pendapat teman-teman, tentang apa itu arti “persahabatan”? Apa kalian juga ada perubahan persepsi tentang arti “persahabatan?” Bisa tulis di kolom komentar dibawah โœŒ๐Ÿผ

I hope you guys enjoy my writings. Walaupun bahasanya agak belepotan, tapi aku seneng banget nulis blogpost kali ini sampai tidak kerasa sudah jam 2 malem haha.ย 

Terima kasiiih sudah membaca sampai siniii ๐Ÿ’•

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Related Articles

This Post Has 10 Comments

  1. Setuju bgt mba.. kalau teman atau kenalan kita ngga bisa milih2 karena terkadang memang tiba2 dipertemukan atau hanya sekedar lewat. Tapi kalau sahabat bisa bermula dari teman yang memiliki ketertarikan bahkan mungkin visi yang sama dan menerima kita apa adanya. Menemukan sahabat emang tidak mudah..tapi sekali punya sahabat yg baik jangan sampai lepas ๐Ÿ˜Š๐Ÿ’ช

  2. Hal yang paling sedih yang bercampr gmbira adalah lulus skolah krna sedih pisah dgn tman namun senang karna satu pratu pendidikan selasi

  3. Akupun… baru sadar kalo ternyata aku korban bully.. itupun sadarnya setelah kuliah ๐Ÿ˜ญ tanpa sadar itu amat sangat berpengaruh dalam kehidupan aku.. skrg aku selalu berdoa mudah2an kedua anakku ga mengalami bully for the rest of their life.. aamiin..

  4. Kenalan, teman, dan sahabat adalah tiga hal yang berbeda, saya setuju. Karena kalo untuk sekedar kenal mungkin bisa dengan siapa saja, tapi untuk bisa jadi teman ya butuh interest yang sama, meskipun gak bakal se-intens itu untuk saling berhubungan. Berbeda dengan sahabat yang kurang lebihnya bakal selalu ada buat kita. Istilahnya kalo saya berada dalam satu geng, sebenarnya hanya ada 1 doang yg saya anggap sahabat gitu, yang bisa saya ceritain dari A sampe Z, yang lain mungkin sekedar cerita kulit luarnya doang, haha.

  5. Beberapa waktu lalu aku sempet bahas tema friendship bareng Hyung.
    Kami mencoba memberikan perspektif masing-masing soal persahabatan.

    Aku tuh salut sama orang-orang yang masih bisa keep in touch bareng gengnya. Kayak cewek-cewek AADC gitu. Tapi realita yang terjadi di diriku, circle-ku mengecil, lambat laun, orang yang dulu masuk dalam level sahabat atau teman dekat, mundur selevel atau mungkin paling extreme jadi kenalan.

    Bisa dibilang, aku menyadari bahwa yang tersisa adalah diriku sendiri, dan dia yang paling dekat denganku saat ini. Disusul Hyung (partner-ku) dan keluarga kami. Di luar itu, mereka ada di level kenalan atau rekan kerja.

  6. Kalau saya sepertinya tidak punya sahabat deh mbak ๐Ÿ˜ kalau teman dekat ada. Karena tiap masalah yg berbeda, saya ceritanya ke beda orang. Jika curhat masalah pelajaran, lebih nyaman curhat ke si A. Kalau masalah keluarga lebih enak ke si B. Kalo masalah jodoh, lebih nyambung ke si C. Tp ttp aja msh ada yg ditutupi, krn saya orangnya tertutup

  7. Setelah dirasa-rasa emang bener ya kenalan, temen deket, dan sahabat itu berbeda. Apalagi makin ke sini circlenya makin sempit. Itupun belum dikatakan semua orang yang berada di circleku sahabat. Entah apapun namanya kita berusaha berteman secara baik dengan cara yang sesuai pada diri kita masing-masing. Karena ke depan nggak tahu siapa yang bakal jadi cuma kenalan, temen deket, atau sahabat.

  8. Aku setuju banget sama tulisan mba! Kalau sebatas kenalan doang ya nggak usah memilih nggak apa-apa, tapi untuk teman sangat dekat, sahabat baik, itu aku milih banget sih, kalau nggak se frekuensi dan bikin kita jadi orang lain, kan gak enak juga ya.

  9. bener banget, quality over quantity. banyak temen kalo bikin hidup kita rudet mah mending ngga deh ๐Ÿ˜‚ ga perlu maksain nyari temen atau sahabat kalo ujungnya ga sevisi atau sefrekuensi sama kita. lebih baik kita kenalan sama diri sendiri dulu, tau apa yg kita butuhkan. lama2 bakal ada temen yg nyantol dan jadi sering kontakan karena memang nyambungnya dari hati dan jiwa ๐Ÿ˜‚

  10. bagus nih mba buat jadi bahan obrolanku ke anak2. karena anakku ada yang tipenya rentan di bully. berharap sih jangan sampe nemu temen yang aneh2, atau kl pun misal sampe ada at least dia mau cerita ke aku

Leave a Reply

Terima Kasih Sudah Membaca ๐Ÿ’›

Aqmarina

Travel Blogger

Iโ€™m a fan of traveling and taking pictures along the way, including that feeling of waking up in difference places and getting the excitement of talking to other people about their travel stories, or just simply enjoying the moment.

Aqmarina

Instagram
Popular Stories
Ads
Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia
Let's Explore!
Community
Close Menu