Sebuah Cerita Tentang Perjalanan “Jalan Kaki”

Sebuah Cerita Tentang Perjalanan “Jalan Kaki”

Hi semua! selamat datang kembali ke blogpost mingguanku (yang terlambat ini haha.. harusnya minggu kemarin “one week, one post” tapi mau gimana lagi, baru sempat untuk menulis di minggu ini ✌️) Aniwaii, minggu ini aku mau bercerita sedikit tentang salah satu hobi yang aku gemari, yaitu melakukan perjalanan dengan kaki, alias hiking. Serta alasan kenapa aku menyukai kegiatan yang mungkin terlihat simpel tersebut. 

“Seberapa Jauh Dan Lama Aku Ingin Melangkah?”

Di suatu pagi di tahun 2018, aku mempunyai misi untuk pergi hiking di daerah Keelung, yang letaknya ada di utara kota Taipei, Taiwan. Aku menyebutnya misi, karena ini sudah niat banget untuk menaiki gunung-gunung kecil yang bernama Teapot Mountain (茶壺山) dan Banping Mountain (半平山).

Kedua gunung tersebut jaraknya berdekatan dan dalam satu area trail.

Alasannya? Hmm.. mungkin sedikit lucu (tapi tidak selucu waktu itu haha), karena aku lagi pusing dengan penyusunan thesis/skirpsi dan sedih tentang “What am I going to do with my life?” crisis haha, tapi alasan yang utama adalah skripsian 😂 (Ada yang bisa relate dengan stress gara-gara skripsian juga ngga?)

Nah gara-gara feeling stuck, akhirnya aku ingin pergi menikmati alam sejenak pikirku. Dari pada ke mall, yang nanti akhirnya jadi impulsive buying, aku putuskan untuk pergi jalan kaki saja menyusuri alam yang tidak ada orang jualan seperti jalan ke mall haha. Less distraction, the better for my mind…

Berangkatlah aku pagi hari itu, menggunakan kereta pagi dari hiruk pikuk ibu kota Taipei. Setelah 40 menit perjalanan kereta, aku lanjutkan dengan 30 menit dengan naik bus ke titik awal perjalanan jalan kaki ini (Mana sempet nyasar pula haha. Maklum karena ini baru kali kedua aku kesini, dan kali ini aku jalan kaki sendiri 🙈).

Tangga demi tangga aku lalui (haseek~). Capek sekali rasanya karena, untuk ke spot pertama yaitu Teapot Mountain atau Gunung Teko Teh dalam bahasa Indonesia. Karena gunung ini bentuknya seperti Teko dari kejauhan. 

Sekitar 1,5 jam jalan kaki untuk sampai ke spot pertama ini. Dari sini kita harus bisa memanjat menggunakan tali sekitar 2m untuk bisa masuk kedalam gua yang ada digunung batu ini. Woia~~ kita akan disuguhi dengan pemandangan Gunung Kelung dari kejauhan dengan background laut lepas. (Worth it! 😍)

The Power Of "Jalan Kaki"

Dalam perjalanan ke Banping Mountain meşihat Teapot Mountain dari kejauhan

Setelah istirahat sejenak untuk bernafas tanpa ngos-ngosan hehe, aku melanjutkan berjalan kaki untuk menuju Bangping Mountain (半平山). Aku berjalan dari spot leyeh-leyahku (Pada gambar diatas “Disini”) selama kurang lebih 2 jam karena jalannya yang berbatu-batu jadi deg-deg an juga haha.

Akhirnya satu step lagi sampai ke Banping Mountain, yaitu memanjat tebing (Iya memanjat tebing yang tingginya kira-kira 5 meter dengan hanya menggunakan tali 🙈). Kalau ada yang ingin tau gambarannya seperti apa, bisa check in blogpost aku tentang Banping Mountain dan Teapot Mountain atau klik link di bawah ini 💕

Selama perjalanan, aku berpikir, kok bisa ya aku berjalan selama hampir 4 jam… dari yang tadinya sedih dan feeling stuck, jadi capek dan deg-degan tetapi senang. Something simple, just our legs and thats it! You’re ready to go to enjoy the nature.

Minding your steps, and just keep going…

Akhirnya Sampai

Tempat makan siang terfavoritku, walaupun ini spotnya agak seram, tapi sudah aku pastikan kalau aman 🙈

Setelah drama panjat tebing, akhirnya aku sampai keatas Banping Mountain. Aku istirahat sejenak di sambari menikmati pegunungan hijau sejauh mata memandang. Setelah itu aku menuju spot yang paling aku suka dengan menyusuri jalan setapak untuk duduk di puncak tebing untuk menikmati pemandangan laut dan jalur jalan kaki yang aku lalui sebelumnya. 

Perut sudah keroncongan ketika aku sampai dipuncaknya, akhirnya aku ambil bekal sushi yang sebelumnya aku beli ketika berada di stasiun 🤤🍣 . Best food with the best view setelah capek jalan kaki haha benar-benar kenikmatan yang hqq teman-teman.

Setelah makan aku lanjutkan untuk membaca dan menulis journal sejenak sambil ditemani hangatnya matahari dan angin yang sepoi-sepoi 😌

Senangnya bisa menghabisan waktu di alam sebagai obat alami ketika pikiran baru acakadul tidak karuan haha ini.

Waktu pun tidak terasa sudah menunjukkan pukul 4 sore, sudah waktunya untuk kembali turun sebelum matahari terbenam… 8 jam, hari itu aku lalui dengan jalan kaki dan menikmati alam dari jam 9.30 sampai 17.30 ketika aku sampai di halte bus untuk melanjutkan perjalananku kembali ke Taipei. What a day!

Terima kash buat teman-teman yang sudah membaca blogpostku kali ini sampai selesai. Kalau ada yang penasaran, “Apa ngga capek selama itu jalan kaki?” Well, sampe rumah aku amsyong alias capek banget.. rebahan berasa nikmat pake banget haha 😂

Kalau kalian, gimana sewaktu stress skripsian? Atau mungkin ada yang baru skripsian? Apa yang kamu lakuin untuk merefresh otak yang sudah mulai berasap haha? Let me know on the commonet below 😊💕

This Post Has 20 Comments

  1. Postingannya bikin saya kangen hiking. 8 bulanan sudah saya di rumah. Mudah-mudahan ini kaki masih kuat buat diajak jalan hihihi

    1. Iya mbak sama haha 🙈 mungkin ini waktunya untuk kaki beristirahat sejenak, besok setelah covid mulai jalan lagi.. pegel-pegel dikit ngga papalah awalnya 😂

  2. Kalau dari fotonya, aku yakin segala lelahnya jalan kaki itu terbayaaarr sama pemandangannya. Bagus banget banget! Dari foto aja udah bagus, apalagi disana beneran 🙂

    Waktu aku stress skripsian, aku kabur ke Malang (dulu aku kuliah di Surabaya) untuk mencari pantai. Terserah pantai apapun, yang penting ada pasir sama ombaknya, pikirku dulu. Akhirnya dengan modal nekat, aku ajak beberapa temanku ke Malang dan ada yang mengusulkan pantai namanya Pantai Sendiki. Pas kesana, seperti cerita ini juga, ada aja hambatan yang dilalui. Tapi pemandangannya bener-bener worth every minutes perjalanan kesana. Aah, terimakasih telah mengingatkan aku masa-masa itu kak Aqma <3

  3. Kak Aqma, semangat skripsiannya! Semoga semua bisa dilancarkan sampai sidang nanti ya. Mangaat!! 🙂

    Pemandangannya bagus sekali 😍 menempuh perjalanan selama 8 jam untuk menikmati pemandangan nan indah ini sepertinya worth it 😍.

    Saat stress skripsian, aku juga memilih untuk jalan-jalan sejenak dan aku memilih museum sebagai tempat melepas penat wkwkwk

    1. Iya worth it banget mbak Lia.. capeknya hilang langsung waktu ada diatas menikmati alam. Tapi sayangnya capeknya dateng rame keesokan harinya wkwk 🙈
      Malah amsyong ngga bisa nulis karena kecapekan 🤣

      Emang ya mbak, jalan-jalan itu penghilang stress dan penat sewaktu ngga bisa nulis 🤗 pikiran jadi plong lagi haha

  4. Wah seru banget, sampai ada bagian manjat tali segala ya, berarti curam sekali, wah ga kebayang! 🙂

    1. Iya mbak Rika, udah kaya monyet gitu gelantungan ambil nafas ditengah-tengah memanjat haha 🙈

  5. hmm skripsian emang bikin mumet banget kayaknya ya.. begitu udah liat pemandangan rasanya otak kaya fresh gitu hihi

    1. Iya jalan-jalan/ refreshing emang obat mujarap kalau otak lagi penat mbak Revi. Langsung cair untuk menulis lagi haha

  6. Mba Aqma, OMG, berani bangetttt 😍

    Saya kalau jalan kaki sebetulnya suka sih selama masih datar dan nggak jauh jaraknya *banyak banget syaratnya mau jalan doang* hahahahaha. Jadi setiap baca tulisan teman-teman yang hiking ke mountain dengan jalur terjal, saya hanya bisa menganga, salut dan kaget sambil bertanya, “Keren ya, kok bisa? Kok kuat?” 😂

    By the way, menjawab pertanyaan mba Aqma, apa yang biasa saya lakukan untuk refresh otak, jawabannya adalah tidur, mbaaa hahahaha, atau dengar musik, pokoknya bermalas-malasan. Payah banget, yah. Pengaruh umur sepertinya. Kalau diusia 20 tahunan dulu, saat ingin refresh otak, lebih suka pergi ke luar, tapi sekarang lebih suka di rumah 😂

    1. Jalan-jalan datar dan ngga jauh jaraknya?! Hmm 🤔 samaaa mbak aku juga suka kadang-kadang apalagi yang sejuk udaranya.. maksud mbak Eno jalan-jalan muter-muter mall kan yak??! Hihi 😂

      Awalnya emang deg-deg an takut capek di tengah jalan.. tapi akhirnya sampai juga mbak setapak demi setapak sambil mikir, mungkin ini terakhir kalinya untuk hiking karena kecapekan.. eh seperti biasa malah nagih 🙈

      Duh itu juga enak mbak untuk ngerefresh otak dengan cara itu.. apalagi waktu kerja.. aku seneng banget kalau bisa tidur haha 🙃

  7. Hai mbak Aqmarina. Wah, hobinya traveling yaa.. Sangat kontras dengan aku yg mager pergi2 ini hehehe… Oh iya, tentang stress skripsi, aku pernah mengalaminya dan itu gak enak banget.. Kalo aku dlu, nonton youtube aja, klo udah mendingan, lanjutin lagi skripsinya..

    1. Hi Sekar, terima kasih sudah mampir dan membaca 🤗
      Haha ngga papa, walaupun kontras tapi kita sama-sama suka blogging ya.

      Haduh paling anti itu kalau untuk buka youtube ketika deadline skripsian bahaya banget kalau untuk aku.. berjam-jam bisa nonton youtube dan procrastinate panjang 😂

  8. Ah, jadi kangen hiking jadinya.
    Hiking itu bikin capek sih tapi ngerasa plong sesudahnya setelah bersinggungan dengan alam.
    Semangat skripsiannya yaa Aqma 👍😁

    1. Hi mbak Yani, terima kasih sudah mampir dan membaca 🤗

      Nah rasa plongnya itu tu yang membuat ketagihan kalau pas hiking, walaupun capeknya bisa buat kaki pegel-pegel 🙈

  9. Akuuu Mbaaaa, korban skripsi yang lari ke alam hahahaha. Dulu stuck banget dan udah stress gara2 skripsi akhirnya diajak melancong deh, untungnya di Jogja banyak banget wisata alam jadi dari pagi sampr malem puas banget refreashing otak! Hahaha

    Btw, Mba Aqma keren sekaliiiii. Berani hiking sendiriaaan. Aku mah sebatas ke mall sendirian doamg beraninya 🙈 abis itu ujung2nya cuma cari cafe buat baca ahahaha. Tapi beneran keren deh! Aku emang ga yakin bisa kuat kalo harus kayak Mba Aqma tapi pengen juga tuh makan bekel diatas tapi gamau mendaki 🤣

    1. Yaaay kita se-team ya mbak Tika haha! 🤘🏽 memang skripsi membawa rasa duka dan kebahagiannya tersendiri. Wah mantap di jogja.. aku jadi inget dulu waktu skripsian disana tips malem begadang kulineran mulu.. isi perut dulu baru isi otak 😂

      Hiking sendirian itu juga awalnya takut mbak, tapi gara-gara udah stuck banget jadi rasa beraninya muncul haha.. pelan-pelan mbak, dulu aku juga hiking di mall kok 🙈

  10. Hi..
    Waduuh ini beneran deh aku jd pengin colab hiking bareng kamu hihi, aku baru menyadari bahwa aku ternyata “jalan kaki” addict,
    Aku bisa killing time dg jalan kaki doang misal di mall cuma liat-liat aja sampe udah kerasa tumit sakit, ke pasar deket kos, hiking ke gn apalagi, kemana aja pokoknya dibuat-buat alasannya biar tetap jalan kaki huahaha..sampai aku menyadari aku punya varises di betis kanan mungkin hasil dari seringnya jalan ataupun berdiri lama but it’s okay 😊 terkadang, memperjalankan diri adalah sebuah me time juga untuk treatment saat rasa kegalauan datang

  11. Wah dulu pas skripsian, aku pun stres berat tapi gak jalan kaki naik gunung. Soalnya di Jogja kan adanya Gunung Merapi ya, tinggi bener wkwkwk. Tapi jeda habis ujian skripsi terus revisian, aku cabut backpacking ke Makassar dan Toraja berempat sama temen-temen. Nekat banget asli itu mah. Kamis diomongin, Sabtunya cabut naik bus ke Surabaya, terus terbang ke Makassar. Selama di sana, wah gak ada mikir skripsi sama sekali. Gak mikir itu revisian mau digimanain, kayak lupa aja gitu. Ternyata away dari hal yang bikin stres bagus juga ya, meski pas pulang berantem sama pacar, terus bingung skripsi diapain hahaha.

Leave a Reply

Close Menu